Sejarah Kota Simo Boyolali

Simo merupakan nama desa sekaligus nama sebuah kecamatan di Kabupaten Boyolali. Di wilayah Kecamatan Simo, ada sebuah tugu yang sangat ikonik, yaitu Tugu Singa. Singa [bahasa jawa; singo/ simo] disebut-sebut sebagai asal muasal lahirnya nama Desa Simo.
Ketua Paguyuban Giring Kusumo Boyolali, H. Wagino atau akrab disapa Eyang Gino, mengisahkan Desa Simo lahir ketika Kerajan Demak yang didukung Wali Sanga mendapatkan perlawanan dari murid Syekh Siti Jennar, yakni Ki Ageng Kenanga.
“Walen sendiri berarti tempat seorang wali. Nama ini merujuk pada seorang sakti menyerupai wali yang tinggal di sana, yakni Kiai Singaprana,” ujar spiritualis Boyolali ini saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (1/7/2016).Raja Demak saat itu, yakni Raden Patah, waswas atas kekuatan Ki Kebo Kenanga di wilayah Pengging. Kegundahan Raden Patah sedikit terobati ketika mendengar kabar adanya seorang sakti dan bijaksana yang tinggal di Walen, salah satu desa di Kecamatan Simo.
Maka, terbesitlah Raden Patah untuk mengutus para wali menemui Kiai Singaprana yang tinggal di Walen. “Saat itu, Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga diutus untuk menemui Kiai Singaprana. Keduanya menyamar sebagai penggembala bebek dan pengemis,” kisah Eyang Gino.
Singkat cerita, penyamaran kedua wali itu diketahui Kiai Singaparana. Orang bijak bestari itu lantas bersimpuh memberi hormat kepada kedua wali yang menyamar sebagai penggembala bebek dan pengemis itu. “Paduka adalah tamu agung. Panutan saya,” ujar Kiai Singa dengan takzim kepada Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga.
Kedua wali utusan Raden Patah lantas mengisahkan maksud kedatangannya. Selain untuk menyelidiki kebenaran kabar tentang adanya orang sakti dari Desa Walen, kedua wali itu juga ingin menanyakan apakah kekuatan Ki Kebo Kenanga yang bermarkas di Pengging bisa ditaklukkan oleh pasukan Kerajaan Demak.
Kiai Singa lantas bersemedi. Ia kemudian mendapatkan isyarat. Kedua wali itu lantas diminta menabuh gamelan yang ada di Segaran Desa Walen.
“Jika gamelan itu berbunyi mengaum seperti singa, maka pertanda pasukan Kebo Kenongo bisa dikalahkan oleh pasukan Demak. Tapi, jika tak berbunyi, lebih baik kembalilah ke Demak,” ujar Kiai Singa.
Maka, dipukulah gamelan itu oleh Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Kabar gembira itu rupanya berpihak kepada kedua sunan itu. Gamelan itu mengaum seperti singa. Suaranya terdengar ke pelosok Boyolali hingga ke Pengging, tempat di mana ayah Joko Tingkir itu berkuasa. Pasukan Ki Kebo Kenanga terkaget dan heran. “Suara apa itu kok mbaung seperti Simo [singa],” kisah Eyang Gino.
Sejak peristiwa itulah, nama desa tersebut disebut Simo.Untuk menandai lahirnya Desa Simo, pemerintah setempat membangunkan Tugu Singa di Pusat Kecamatan Simo. “Nama Simo itu ya singa. Itulah simbol wilayah Simo,” ujarnya.
Source : solopos