Simo Sendiko – Ristansari hanyalah satu dari sekian banyak contoh Karang Taruna yang ada di Simo yang patut kita teladani. Kreativas pemuda yang tergabung dalam organisasi kepemudaan ini begitu kentara hingga kini. Pastinya kamu juga sudah pernah dengar Kali Cemara bukan. Ternyata Kali Cemara hanya satu dari rentetan upaya untuk mencari jati diri yang dilakoni oleh Ristansari. Diusianya yang ke-25, Karang Taruna di RT 13 Desa Blagung ini masih aktif mengisi ruang kosong warganya.

Anggota Ristansari

Berdiri sekitar tahun 1993 Karang Taruna Ristansari seakan menjadi jantung Dukuh Tanjungsari RT 13, Blagung, Simo, Boyolali. Seperti halnya karang taruna pada umumnya, hadirnya organiasi kepemudaan ini adalah kesadaran akan pentingnya menampung aspirasi dan potensi kepemudaan. Sebelum Ristansari berdiri, Sejumlah pemuda yang berada di Ngeplang raya menjadi satu karang taruna yakni bernama Trias Manggul, lalu sempat berganti lagi menjadi Catur Manunggal, dan setelah terpisah, akhirnya Ristansari berdiri sendiri, bukan lagi di area Ngeplang tetapi fokus pada RT 13, begitu juga karang taruna yang lain yang mulai membangun lingkungan kampungnya masing – masing.

Ristansari sendiri merupakan kepanjangan dari Remaja Islam Tanjungsari, belum tahu secara pastinya siapa yang mecentuskan, akan tetapi generasi pertama telah memilki asas religi keislaman sebagai jantungnya. Hal ini tidak dipungkiri karena di RT 13 sendiri punya tiga Mushola yang tersebar di tiga titik yakni timur, tengah, dan barat.

Generasi beralih generasi, kegiatan demi kegiatan pun telah berlangsung selama bertahun – tahun. Bukan tanpa halangan, ditengah heterogenya latar belakang sosial pemuda dan masyarakat menjadikan Ristansari naik dan turun. Kegiatan yang paling familiar adalah kumpulan, lomba 17an, dan malam tirakatan. Meskipun hanya berlangsung se tahun sekali ternyata kegiatan ini sudah sangat lama tidak diselengarakan. Pada tahun 2014 seakan menjadi agin segar bagi organisasi ini. Ditengah masifnya teknologi informasi menjadikan Ristansari lebih terbuka, berbagai informasi dan legalitas karang taruna mulai dibenahi bersumber dari internet. Kini Ristansari sudah punya SK, ADART, pengurus, program kerja, blog ristansari.blogspot.com, media sosial, bahkan video youtube.

Secara rutin keigatan 17an diadakan setiap tahunya sejak 4 tahun silam. Berbagai proker sederhana seperti membersihkan mushola dan lingkungan digalakan sejak saat itu. Kini Ristansari bukan hanya memberikan semagat 45 melalui lomba untuk adik – adik, bahkan perayaan hari Kartini, keceh receh, hingga wisata pun telah dibuka yang kini menjadi identitas RT 13 bahkan Boyolali.

Melalui kejelian pemuda Ristansari, Sungai yang dikenal dengan Sungai Cemoro mulai dikelola. Bukan tanpa alasan, pemikiran ini sebenarnya sudah sejak lama ketika Ristansari ingin mencari jati diri, bahkan sebelumnya pernah mendirikan Taruna Tani Giat Makmur dengan proker penanaman tanaman hortikuluta di area salah seorang warga dan secara bersama melaksanakan pemanfaat lahan pekarangan dengan media polybag. Dari jatuh bagun untuk menyakan diri “siapa Ristansari” maka terbagunlah sejumlah pemuda untuk merealisasikan angan pemanfaatan Dung Tanjung. Bukan tanpa pertanyaan, banjir, air yang keruh, sampah, dan penggunaan lahan menjadi pekerjaan rumah.

Sekarang ini pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan mudah. Banjir bukan lagi halangan, karena banjir adalah siklus alamiah maka spot dan insfrastruktur dapat didirikan diatas batas tertinggi banjir. Air yang keruh bukanlah alasan “apakah kita mau menyalahkan Tuhan” tentu tidak bukan, Air adalah anugrah apapun warnanya, yang jadi soal bukan perkara warna tetapi kebersihanya, kerena coklat bukanlah limbah. Terlebih saat kemarau, gemercik air yang jernih seakan mengundang segera ingin berenang. Sampah plastik yang menyumpal secara perlahan tapi pasti pun hilang, lalu sebagian warga sudah merelakan lahanya untuk dikelola bahkan ikut serta bergotong royong memperbaiki akses jalan. Kini bisa dilihat secara jelas bagaimana Kali Cemara menjadi salah satu destinasi wisata Simo, Boyolali.

Seutas tentang Ristansari adalah bagaimana pemuda menempatkan diri dalam masyarkat. Nilai tawar pemuda bisa sangat tinggi bahkan mampu menutupi rongga kosong yang tidak terfikirkan oleh masyarkat. Kini Ristansari benar – benar memberi kesan dan sejarah yang tak terlupakan. Berangkat dari kearifan lokal, setiap kampung punya potensinya. Giliran kamu menjadi bagian dari kreativitas zaman now. (Agung Prasetyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here